Peran Hara Magnesium (Mg) pada Tanaman Kelapa Sawit

Salah satu tantangan utama dalam pengembangan perkebunan kelapa sawit diantaranya adalah lahan marjinal. Umumnya, lahan ini memiliki kualitas tanah yang rendah, seperti tanah berpasir, podsolik merah kuning, ultisol, atau gambut yang miskin unsur hara esensial. Salah satu permasalahan yang muncul pada lahan marjinal adalah defisiensi magnesium (Mg). Rendahnya kandungan Mg alami dalam tanah dan tingginya pencucian unsur ini menyebabkan gejala klorosis pada daun, penurunan fotosintesis, hingga berkurangnya hasil panen. Mg berfungsi mengatur penyerapan hara lain, termasuk meningkatkan ketersediaan fosfor (P) yang berperan dalam pembentukan adenosin trifosfat (ATP). ATP menjadi sumber energi utama dalam proses asimilasi karbondioksida menjadi gula melalui fotosintesis.

Defisiensi Mg pada kelapa sawit umumnya ditandai oleh gejala klorosis pada anak daun yang terpapar langsung sinar matahari, sementara bagian daun yang terlindung tetap berwarna hijau. Gejala ini biasanya muncul terlebih dahulu pada daun tua  dan pada tahap lanjut dapat menyebabkan pengeringan (nekrosis). Kekurangan Mg dapat terjadi akibat rendahnya ketersediaan hara ini di tanah. Selain itu, sifat antagonis Mg terhadap kalium (K) dan kalsium (Ca) juga memengaruhi penyerapannya. Perbandingan unsur K/Ca/Mg yang seimbang menjadi kunci ketersediaan optimal, dengan rasio terbaik sebesar 10/30/60 (Sukarji et al., 2000). Tingginya curah hujan juga berkontribusi terhadap defisiensi Mg, karena unsur ini mudah tercuci dari tanah (Rankine & Fairhurst, 1999).

Untuk mengatasi defisiensi hara Mg, Sulung Research Station (SRS) melakukan penelitian melalui pemupukan yang tepat, baik dari segi jenis pupuk, dosis, maupun waktu aplikasi. Pemilihan pupuk yang sesuai akan membantu menjaga ketersediaan Mg di tanah, memastikan penyerapan yang optimal oleh tanaman, dan pada akhirnya mendukung kelapa sawit untuk menghasilkan produksi yang optimal. Selain itu, aplikasi bahan organik juga diperlikan untuk membantu meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) sehingga Mg lebih stabil dan tidak mudah tercuci. Dengan kombinasi ini, ketersediaan Mg lebih terjamin, penyerapan tanaman lebih optimal, dan produktivitas kelapa sawit dapat dipertahankan secara berkelanjutan.

Sulung Research Station menyediakan layanan konsultasi dan pendampingan agronomi, pengendalian hama penyakit terpadu, penyusunan rekomendasi pemupukan, hingga jasa laboratorium untuk dapat meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit untuk seluruh pelaku usaha perkebunan kelapa sawit di Indonesia.